
Reksadana bisa rugi. Nilai investasi reksadana tidak dijamin dan dapat turun tergantung kinerja portofolio yang dikelola Manajer Investasi. Saat harga aset dasar seperti saham atau obligasi turun, Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana ikut turun, dan kamu bisa mengalami kerugian jika menjual unit penyertaan di harga tersebut. Menurut data OJK per 2025, nilai reksadana saham sempat terkoreksi hingga 12% dalam satu tahun karena volatilitas pasar. Ini menunjukkan bahwa reksadana bukan instrumen bebas risiko, dan pemula perlu memahami risiko sebelum berinvestasi.
Poin Penting
- Reksadana tidak bebas risiko karena nilai investasi dipengaruhi pergerakan pasar.
- Kerugian reksadana terjadi saat NAB/UP turun akibat anjloknya aset dasar.
- Risiko reksadana berbeda antar jenis, seperti saham, pendapatan tetap, atau pasar uang.
- Faktor penyebab rugi meliputi resesi, suku bunga naik, dan manajemen yang kurang optimal.
- Pemula perlu paham risiko sebelum memilih reksadana dan jangan panik saat rugi.
Apa Itu Risiko Reksadana?
Risiko reksadana adalah kemungkinan nilai investasi kamu berkurang. Reksadana mengumpulkan dana dari banyak investor untuk diinvestasikan ke portofolio aset seperti saham, obligasi, atau instrumen pasar uang. Kinerja portofolio tersebut menentukan naik-turunnya NAB. Jika aset dasar turun, NAB ikut turun dan kamu bisa kehilangan sebagian modal. Tidak ada jaminan bahwa reksadana akan selalu untung. Bahkan reksadana dengan rating tinggi pun bisa mengalami penurunan nilai.
Bagaimana Reksadana Bisa Rugi?
Reksadana bisa rugi ketika NAB per unit penyertaan (UP) lebih rendah dari harga beli kamu. Ini terjadi karena:
• Harga saham atau obligasi dalam portofolio turun.
• Manajer investasi melakukan kesalahan dalam pemilihan aset.
• Kondisi ekonomi makro memburuk, seperti resesi atau krisis keuangan.
• Likuiditas pasar menipis sehingga sulit menjual aset dengan harga wajar.
Menurut Laporan Statistik Reksadana OJK per Maret 2026, sekitar 30% reksadana saham mencatat imbal hasil negatif dalam 12 bulan terakhir. Artinya, kerugian cukup umum terjadi.
Faktor Penyebab Kerugian Reksadana
Beberapa faktor utama yang menyebabkan kerugian reksadana:
• Volatilitas pasar saham: Fluktuasi harga saham langsung berdampak pada reksadana saham.
• Suku bunga acuan: Kenaikan suku bunga biasanya menekan harga obligasi dan reksadana pendapatan tetap.
• Manajer investasi: Keputusan alokasi aset yang kurang tepat bisa memperbesar kerugian.
• Biaya pengelolaan: Biaya manajemen dan fee lain mengurangi hasil investasi.
• Peristiwa global: Perang, pandemi, atau krisis energi bisa memicu penurunan pasar luas.
Sebagai contoh, saat pandemi COVID-19 pada 2020, NAB reksadana saham di Indonesia anjlok hingga 30% dalam beberapa minggu.
Jenis Risiko Berdasarkan Tipe Reksadana
Reksadana saham memiliki risiko terbesar, sedangkan pasar uang relatif aman. Menurut data Infovesta per 2025, reksadana saham memiliki standar deviasi tahunan 15-25%.
Contoh Skenario Rugi
Kamu membeli reksadana saham dengan NAB Rp1.000 per unit pada Januari 2026. Pada Maret 2026, karena aksi jual pasar, NAB turun menjadi Rp850 per unit. Jika kamu menjual seluruh unit di harga itu, kamu rugi 15%. Jika kamu bertahan, mungkin NAB pulih kembali beberapa bulan kemudian. Contoh ini menunjukkan bahwa kerugian bisa bersifat sementara jika kamu tidak menjual saat terpuruk.
Cara Mengelola Risiko Reksadana
- Pahami profil risiko kamu sebelum memilih jenis reksadana.
- Diversifikasi dengan membeli beberapa reksadana berbeda atau campur dengan instrumen seperti emas atau saham langsung. Pelajari investasi saham pemula untuk opsi lain.
- Investasi jangka panjang (5 tahun atau lebih) untuk mengurangi dampak volatilitas.
- Jangan panik saat NAB turun; evaluasi fundamental reksadana terlebih dahulu.
- Alokasikan dana darurat terpisah agar tidak terpaksa menjual saat rugi.
- Pantau biaya pengelolaan dan pilih reksadana dengan expense ratio rendah.
Kesimpulan
Reksadana bisa rugi, tetapi bukan berarti harus dihindari. Kerugian adalah bagian normal dari investasi, terutama pada reksadana saham yang volatil. Kunci utamanya adalah memahami risiko, memilih jenis yang sesuai profil, dan berinvestasi dengan horizon waktu yang panjang. Pemula wajib belajar tentang risiko dan jangan tergiur iming-iming return tinggi tanpa analisis.
FAQ
Mobee adalah platform untuk menjelajahi produk aset kripto dan investasi yang diawasi berizin dan diawasi OJK, ICEx, Komdigi, KAN, dan Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia. Mulai perjalanan investasimu melalui Mobee dan pilih produk yang sesuai dengan tujuan serta profil risikomu.


